Awalnya
semua terlihat biasa, terus berjalan seolah tiada apa. Merasa tak ada yang
menarik tuk diperhatikan dan tak ada kecurigaan yang patut dirasakan. Entah karena
kau yang pintar menyembunyikannya ataukah karena ketidakpekaannya aku.
Hingga
waktu terus berlalu dan memperlihatkannya padaku tentang rasa yang tercermin
dalam tingkahmu. Aku mulai tersadar karena kecerobohanmu, tak mengendalikan
diri tuk tetap mengawasi hanya dalam diammu saja agar rahasia itu hanya tetap
menjadi milikmu sendiri dan hanya Allah SWT yang tahu. Kemudian akupun mulai
teringat pada masa-masa yang telah lalu tentang sikapmu.
Dan
sampai sekarang kau masih saja tetap bertahan seperti demikian, dengan
prinsipmu yang kuat itu.
Akupun
kemudian mengingat akan kisah yang pernah kualami bahwa ku juga pernah
kagumimu, sosok yang begitu menggoda. Menggoda bukan karena kau pandai merayu tapi
kerana akhlak dan tingkahmu, yang dari kebanyakkan kami (kaum wanita) idamkan
dan harapkan. Membuat kami sejenak membayangkan betapa sejuknya hati sepanjang
hari bila bersanding, bisa menjadi milikmu.
Tapi
aku sendiri tak begitu berharap tuk lalui sisa waktuku ini agar bisa bersama
denganmu. Bukan karena ku tak menginginkanmu atau karena merasa kita tak
pantas, tapi karena alasan lain yang sulit untuk bisa kita lalui.
Maka
dari itu, biarlah waktu berjalan seperti biasa dan kita tetap sama-sama nikmati
sandiwara ini, yang sesungguhnya saling mengagumi hingga waktunya nanti tiba
tuk memberi jawaban. Apakah kita dipersatukan olehNya nanti ataukah berpisah
demi kebaikan masing-masing. Biarlah kita saling mengagumi dan memperhatikan
hanya dalam diam karena kita masih jauh dari kemandirian dan masih banyak yang
harus diselesaikan untuk menggapai cita. Kita juga masih bagaikan ilalang dan
rumput liar yang belum bisa memberi arti satu sama lain
Hanya
bisa saling mendo’akan dan berharap kepadaNya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar